Jumat, 28 Agustus 2015

Kumpulan Kata Kata Bijak Motivasi


Betapa pun gelapnya hidupmu, sesungguhnya kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih berbahagia selalu ada di dekatmu.
Kamu tidak harus menunggu tahun berganti untuk jadi pribadi yang lebih baik. Kamu memiliki kemampuan untuk berubah, kapanpun kamu mau!
Tidak pernah ada kata terlalu terlambat untuk memulai. Begitu juga untuk mengakhiri.
Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki, dan sabar menanti apa yang akan menghampiri.
Jangan pernah menyalahkan orang lain dalam kehidupanmu, Sebab orang yang baik membuatmu bahagia, orang jahat membuatmu belajar dan orang yang terbaik membuatmu mengingatnya.
Dengan diam, belajarlah mengenali diri sendiri dan mengetahui bahwa segala sesuatu dalam hidup ini memiliki tujuan.
Bahagia itu akan menjadi sangat sederhana, bila kita selalu menghargai apa yang telah diraih walau sekecil apapun.
Jangan terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Tak peduli bagaimana kamu merencanakannya, rencana Tuhan akan selalu lebih baik dari rencanamu.
Dalam setiap kisah sukses, Anda akan menemukan seseorang yang telah mengambil keputusan dengan berani.
Jika kamu gagal, jangan tangisi keadaan. Tangisilah harapan yang tak kau perjuangkan.
Ambil pelajaran dari masa lalu, tinggalkan sisanya. Jangan biarkan belenggu kesedihan menutup jalanmu menuju masa depan.
Hati akan menemukan kedamaiannya saat kita mampu memaafkan. Jadilah pribadi yang anggun diatas ketulusan.
Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri.
Berharap itu bukan hanya diam, tapi tetap berdoa dan berusaha. Impian bukan untuk ditunggu, tapi juga dijemput.
Jangan memulai hari dengan penyesalan hari kemarin, karena akan mengganggu kebesaran hari ini, dan akan merusak keindahan hari esok.
Tidak ada jaminan kesuksesan, namun tidak mencobanya adalah jaminan kegagalan.
Berusahalah untuk bersabar dengan segala hal. Namun yang terpenting adalah bersabar dengan dirimu sendiri.
Teman adalah bukan mereka yang menghampirimu bila diperlukan, tetapi mereka yang bertahan ketika seluruh dunia menjauh.
Setiap perbuatan yang membahagiakan sesama adalah suatu sikap yang mencerminkan pribadi yang mulia.
Kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah keyakinan bahwa kita dicintai oleh orang yang kita cintai.
Jangan pernah mempercayai seseorang yang hanya berkata tapi tak pernah berbuat. Karena ia akan mudah ingkar janji semudah ia berucap janji.
Hidup tak akan indah jika semua sama. Dan perbedaan adalah untuk saling melengkapi, bukan untuk saling membenci.

Kamis, 27 Agustus 2015

                   PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF

• Metode penelitian kuantitatif berlandaskan pada filsafat
positivisme
• Filsafat positivisme memandang realitas/gejala/fenomena
itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati,
terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat.
• Digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu
• Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian
• Analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan.



               PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF

• Pendekatanpenelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat
postpositivisme
• Filsafat postpositivisme sering juga disebut
sebagai paradigma interpretif dan konstruktif
• Memandang realitas sosial sebagai sesuatu
yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh
makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif
(reciprocal = timbal balik).



PERBANDINGAN PENDEKATAN KUANTITATIF &
PENDEKATAN KUALITATIF


• Pendekatan kuantitatif sering
disebut pendekatan tradisional
• Berlandaskan filsafat
positivistik
• Metode scientific
• Metode konfirmasi
• Kuantitatif
• Pendekatan kuantitatif sering
dinamakan metode tradisional,
positivistik, scientific


• Pendekatan kualitatif sering
disebut pendekatan baru;
• Pendekatan postpositivistik;
• Metode artistik,
• Metode temuan;
• Interpretif.
• Metode discovery.

Pengertian Paradigma Dalam Penelitian Kuantitatif

PENELITIAN POSITIVISTIK


Sejarah Positivistik
Pada abad ke-19, dunia filsafat sangat dipengaruhi oleh filsafat positivisme. Pengaruh itu terutama sangat terasa di bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam sejarah filsafat Barat, orang sering menyatakan bahwa abad ke-19 merupakan “Abad Positivisme”. Suatu abad yang ditandai dengan dominasi fikiran – fikiran ilmiah, atau apa yang disebut ilmu pengetauan modern. Kebenaran atau kenyataan filsafati dinilai dan diukur menurut nilai positivistiknya, sedang perhatian orang kepada filsafat, lebih ditekankan kepada segi-seginya yang praktis bagi tingkah laku dan perbuatan manusia. Orang tidak lagi memandang penting tentang “dunia yang abstrak”.
Auguste Comte, atau nama lengkapnya Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte (1798 – 1857), pendiri aliran filsafat positivisme, telah menampilkan ajarannya yang sangat terkenal, yaitu hukum tiga tahap (law of three stages). Melalui hukum ini dinyatakan bahwa sejarah manusia, baik secara individual maupun secara keseluruhan, telah berkembang menurut tiga tahap, yaitu tahap teologi atau fiktif, tahap metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau ilmiah atau riil. Secara eksplisit juga ditekankan bahwa istilah “positif” adalah suatu istilah yang dijadikan nama bagi aliran filsafat yang dibentuknya sebagai sesuatu yang nyata, pasti, jelas, bermanfaat, serta sebagai lawan dari sesuatu yang negatif.
1.      Tahap teologi atau fiktif
      Tahap ini merupakan tahap pertama atau awal setiap perkembangan jiwa atau masyarakat. Dalam tahap ini manusia selalu berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada. Manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kekuasan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk insani biasa. Menurut Auguste Comte, tahap teologi ini tidak akan muncul begitu saja , melainkan didahului pula oleh suatu perkembangan secara bertahap, yaitu:
a.       Fetisyisme/animisme, yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari oleh pemikiran-pemikiran yang mempunyai anggapan, bahwa segala sesuatu yang berada di sekeliling manusia mempunyai suasana kehidupan yang sama seperti manusia sendiri. Bahkan segala sesuatu yang berada di sekeliling tadi akan mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap kehidupan manusia sedemikian rupa sehingga manusia harus menyesuaikan diri dengannya. Adapun yang dimaksud dengan segala sesuatu itu adalah benda-benda alam seperti gunung, pohon, batu dan lain lain.
b.      Politeisme, yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari oleh pemikiran-pemikiran yang mempunyai anggapan bahwa daya pengaruh atau kekuatan penentu tidak lagi berasal dari benda-benda yang berada di sekeliling manusia, melainkan berasal dari makhluk-makhluk yang tidak kelihatan yang berada di sekeliling manusia. Oleh karena itu, segala fikiran, tingkah laku, dan perbuatan manusia harus disesuaikan serta diabdikan kepada keinginan para makhluk yang tidak keliatan tadi. Berdasarkan kepercayaan ini maka kepercayaan timbul bahwa setiap benda, gejala dan peristiwa alam dikuasai dan diatur oleh dewanya masing-masing. Akibatnya, demi kepentingan dan keselamatan dirinya, manusia harus mengabdi dan menyembah para dewa tadi melalui upacara-upacara ritual.
c.       Monoteisme, yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari bahwa pengaruh dan kekuatan penentu itu tidak lagi berasal dari dewa-dewa melainkan berasal dari satu kekuatan mutlak, adikodrati, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan merupakan satu-satunya penentu, sebab pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada, sehingga dengan demikian segala fikiran, tingkah laku dan perbuatan manusia selalu diorientasikan kepada Tuhan, sejalan dengan dogma – dogma agama yang dianut manusia.
2.      Tahap metafisik atau abstrak
Dengan berakhirnya tahap monoteisme, maka berakhir pula tahap teologi atau fiktif. Hal ini disebabkan karena manusia mulai merubah cara-cara berfikirnya, dalam usahanya untuk mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan gejala-gejala alam. Dogma-dogma agama ditinggalkan, kemampuan akal budi dikembangkan. Tahap metafisik menurut Auguste Comte merupakan tahap peralihan, walaupun dalam tahap metafisik ini jiwa manusia masih menunjukkan hal-hal yang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan dalam tahap teologi, namun disini manusia sudah mampu melepaskan diri dari kekuatan adikodrati, dan beralih pada kekuatan abstraksinya. Pada saat inilah istilah ontologi mulai dipergunakan. Karena itulah dalam tahap metafisik, jiwa manusia sering mengalami konflik, karena di satu pihak pengaruh  
Paradigma Positivistik
Secara etimologis historis, istilah dasar positif dikenal luas karena usaha keras filsuf Perancis Auguste Comte. Dalam kerangka filsafat positivisme, pengetahuan manusia dianggap bermakna jika dapat dicapai dan dibuktikan melalui pengamatan inderawi empirik. Implikasi dari pernyataan itu berarti bahwa pengetahuan ilmiah pun dianggap valid sejauh diperoleh melalui prosedur ketat ilmiah positivistik atau melalui proses yang mengandalkan pada pengamatan-pengamatan dan eksperimen-eksperimen yang bersifat empirik inderawi.
Menurut paradigma positivisme, pengetahuan terdiri atas berbagai hipotesis yang diverifikasi dan dapat diterima sebagai fakta atau hukum. Ilmu pengetahuan mengalami akumulasi melalui proses pertambahan secara bertahap, dengan masing-masing fakta (fakta yang mungkin) berperan sebagai semacam bahan pembentuk yang ketika ditempatkan dalam posisinya yang sesuai, menyempurnakan bangunan pengetahuan yang terus tumbuh. Ketika faktanya berbentuk generalisasi atau pertalian sebab-akibat, maka fakta tersebut bisa digunakan secara sangat efisien untuk memprediksi dan mengendalikan. Dengan demikian generalisasi pun bisa dibuat, dengan kepercayaan yang bisa diprediksikan.
Jika dilihat dari tiga pilar keilmuan, ciri-ciri positivistik yaitu: (a) aspek ontologis, positivistik menghendaki bahwa arealitas penelitian dapat dipelajari secara independen, dapat dieliminasikan dari obyek lain dan dapat dikontrol; (b) secara epistemologis, yaitu upaya untuk mencari generalisasi terhadap fenomena; (c) secara aksiologis, menghendaki agar proses penelitian bebas nilai. Artinya, peneliti mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan prediksi meyakinkan yang berlaku bebas waktu dan tempat. Kevalidan penelitian positivisme dengan cara mengandalkan studi empiri. Generalisasi diperoleh dari rerata di lapangan. Data diambil berdasarkan rancangan yang telah matang, seperti kuesioner, inventori, sosiometri, dan sebagainya. Paham positivistik akan mengejar data yang terukur, teramati, dan menggeneralisasi berdasarkan rerata tersebut.
Kata kunci positivisme yang penting adalah jangkauan yang bisa dibuktikan secara empirik (nyata) oleh pengalaman indrawi (dilihat, diraba, didengar, diraba dan dirasakan). Misalnya: seseorang pada akhirnya berkesimpulan dan itu “benar”, bahwa logam apapun jenisnya akan memuai jika dipanaskan. Proses nalar tidak lain berlandaskan pada pengujian terhadap berbagai jenis logam yang memuai saat dipanaskan. Penemuan bukti bahwa logam tersebut dapat memuai dipandang sebagai kebenaran yang bersifat umum, berawal pada peristiwa yang bersifat khusus. Pengambilan kesimpulan seperti ini disebut sebagai penalaran induktif. Cara penalaran ini merupakan proses yang diawali dari fakta-fakta pendukung yang spesifik, menuju ke arah yang lebih umum untuk mencapai kesimpulan. Contoh lainnya: Ayam hitam yang kita amati mempunyai hati. Ayam putih yang diamati juga mempunyai hati. Kesimpulannya adalah setiap ayam mempunyai hati.
Filsafat positivistik memberikan pengaruh yang nyata dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pendekatan positivisme dipakai sangat luas dalam penelitian-penelitian dasar, demikian juga penelitian di bidang pendidikan. Penganut positvistik sepakat bahwa tidak hanya alam semesta yang bisa dikaji, melainkan fenomena sosial termasuk pendidikan harus mencapai taraf objektifitas dan valid melalui metode yang empirik. Dalam rangka mengkaji gejala/fenomena sebagai ilmu pengetahuan ilmiah, positivisme memiliki pokok-pokok paradigma positivistik sebagai berikut:
1.      Keyakinan bahwa suatu teori memiliki kebenaran yang bersifat universal.
2.      Komitmen untuk berusaha mencapai taraf “objektif” melalui fenomena.
3.      Kepercayaan bahwa setiap gejala dapat dirumuskan dan dijelaskan mengikuti hukum sebab akibat.
4.      Kepercayaan bahwa setiap variabel penelitian dapat dididentifikasikan, didefinisikan dan pada akhirnya diformulasikan menjadi teori dan hukum.
Pendekatan Positivistik dalam Penelitian
Gejala alam maupun gejala sosial adalah objek penelitian yang penting dikaji manusia untuk memperoleh manfaat seluas-luasnya. Lebih jauh lagi, kenyataan di sekeliling manusia bisa diformulasikan menjadi ilmu pengetahuan yang jelas dan terukur. Untuk memperolah nilai kebermanfaatan, manusia melakukan pendekatan terhadap alam dan lingkungan sosialnya. Sehingga manusia lebih memahami dan mengetahui aturan dan hukum-hukum pada lingkungannya.
Positivistik bisa menjalankan peran pendekatan ilmiah pada gejala lingkungan untuk diformulasikan menjadi pengetahuan yang bemakna. Pengetahuan modern mengharuskan adanya kepastian dalam suatu kebenaran. Sehingga, sebuah fakta dan gejala dapat dikumpulkan secara sistematis dan terencana harus mengikuti asas yang terukur, terobservasi dan diverifikasi. Dengan begini, pengetahuan menjadi bermakna dan sah menurut tata cara positivistik.
Positivistik sendiri sebenarnya merupakan sebuah paham penelitian. Istilah ini juga merujuk pada sudut pandang tertentu, sehingga boleh disebut sebagai pendekatan. Paham penelitian positivistik berbau statistik dan biasanya menolak pemahaman metafisik dan teologis. Bahkan, paham positivistik sering menganggap bahwa pemahaman metafisik dan teologis terlalu primitif dan kurang rasional. Artinya, kebenaran metafisik dan teologis dianggap ringan dan kurang teruji. Singkat kata, positivistik lebih berusaha ke arah mencari fakta atau sebab-sebab terjadinya fenomena secara objektif, terlepas dari pandangan pribadi yang bersifat subjektif.
Tujuan penelitian dengan pendekatan positivisme adalah menjelaskan yang pada akhirnya memungkinkan untuk memprediksi dan mengendalikan fenomena, benda-benda fisik atau manusia. Kriteria kemajuan puncak dalam paradigma ini adalah bahwa kemampuan “ilmuwan” untuk memprediksi dan mengendalikan (fenomena) seharusnya berkembang dari waktu ke waktu. Perlu dicermati reduksionisme dan determinisme yang diisyaratkan dalam posisi ini. Peneliti terseret ke dalam peran “ahli”, sebuah situasi yang tampaknya memberikan hak istimewa khusus, namun boleh jadi justru tidak layak, bagi seorang peneliti.
Positivistik lebih menekankan pembahasan singkat, dan menolak pembahasan yang penuh diskripsi cerita. Peneliti yang akan menggunakan positivistik, harus berani membangun teori-teori atau konsep dasar, kemudian disesuaikan dengan kondisi lapangan. Peneliti lebih banyak berpikir induktif, agar menghasilkan verifikasi sebuah fenomena. Penelitian positivistik menuntut pemisahan antara subyek peneliti dan obyek penelitian sehingga diperoleh hasil yang obyektif. Kebenaran diperoleh melalui hukum kausal dan korespondensi antar variabel yang diteliti. Karenanya, menurut paham ini, realitas juga dapat dikontrol dengan variabel lain. Biasanya peneliti juga menampilkan hipotesis berupa prediksi awal setelah membangun teori secara handal.
Pendekatan positivistik mewarnai paradigma dan mekanisme kegiatan ilmiah penelitian dalam rangka mencapai kesimpulan yang bermakna sebagai pengetahuan. Nilai penting objektivitas dan validitas pada suatu penelitian menjadi titik tolak mekanisme penelitian saat ini. Suatu penelitian yang memiliki dasar positivistik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Menekankan objektivitas secara universal dan tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
2.      Menginterpretasi variabel yang ada melalui peraturan kuantitas atau angka.
3.      Memisahkan peneliti dengan objek yang hendak diteliti. Membuat jarak antara peneliti dan yang diteliti, dimaksudkan agar tidak ada pengaruh atau kontaminasi terhadap variabel yang hendak diteliti.
4.      Menekankan penggunaan metode statistik untuk mencari jawaban permasalahan yang hendak diteliti.
Penelitian dengan pendekatan positivisme menggunakan beberapa tahap yaitu: Pertama, Pengajuan masalah umum berdasarkan rasional ilmiah tertentu. Kedua, spesifikasi masalah ke dalam ruang lingkup yang lebih khusus serta diikuti pengembangan hipotesis berdasarkan kerangka teoritik tertentu. Untuk menjawab masalah umun dan menjawab hipotesis dilakukan tahap ketiga yaitu, pembuatan jenis rancangan penelitian yang relevan untuk menjawab permasalahan umum dan menguji hipotesis yang telah disusun. Jenis rancangan penelitian dapat bermacam-macam seperti kuasi eksperimen, eksperimen, survei, ex post facto, analisis basis data dan rekaman. Langkah keempat adalah pengumpulan data. Alat pengumpulan yang digunakan menggunakan wawancara terstruktur, pengamatan terkontrol, dan memakai angket. Secara umum data penelitian dalam kerangka positivistik terwujud pada pola-pola yang bersifat kuantitatif. Kelima, tahap terakhir berupa analisis data yang diperolah. Seperti pada penelitian ilmu alam, teknik analisis yang digunakan bersifat statistik matematis seperti analisis faktor, analisis jalur, analisis kanonik, analisis diskriminan atau bahkan sampai pada teknik analisis yang paling canggih seperti meta-analisis. (kerlinger,1986)
Penelitian Kuantitatif dengan Pendekatan Positivistik
Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif. Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme.
Menurut positivisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empirik. Dengan pendekatan positivisme dalam metodologi penelitian kuantitatif, menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikkan objeknya secara eksplisit, dipisahkan dari objek-objek lain yang tidak diteliti. Metode penelitian kuantitatif  merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivistik. Metodologi penelitian kuantitatif mempunyai batasan-batasan pemikiran yaitu: korelasi, kausalitas, dan interaktif; sedangkan objek data, ditata dalam tata pikir kategorisasi, interfalisasik dan kontinuasi. (Muhadjir,2008 : 12).
Penelitian kuantitatif menggunakan alur pemikiran positivisme untuk mengkaji hal-hal yang ditemui di lapangan, tentunya sebelum melakukan penelitian maka kasus atau masalah yang akan diteliti sudah terlebih dahulu digolongkan masuk ke kuantitatif atau kualitatif,sehingga dalam proses selanjutnya peneliti tingggal melakukan riset dengan mengedepankan alur pemikiran yang tepat.
Dalam metode kuantitatif, setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya, cukup banyak, karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis. Jadi hubungannya terletak pada penggunaan paradigma positivis dalam menyusun kerangka penelitian kuantitatif.
Filosofi penelitian dikembangkan oleh filsafat positivisme dapat dijelaskan dari unsur-unsur dalam filsafat secara umum, yaitu :
1.   Ontologi (materi) merupakan unsur dalam pengembangan filsafat sebagai ilmu yang membicarakan tentang obyek (materi) kajian suatu ilmu. Dalam hal ini, penelitian kuantitatif akan meneliti sasaran penelitian yang berada dalam kawasan dunia empiri.
2.   Epistimologi (metode) merupakan unsur dalam pengembangan ilmu filsafat yang membicarakan bagaimana metode yang ditempuh dalam memperoleh kebenaran pengetahuan.
3.   Aksilogi (nilai). Dalam hal ini penelitian kuantitatif menjunjung tinggi nilai keilmuan yang obyektif yang berlaku secara umum dan mengesampingkan hal-hal yang bersifat spesifik.
Acuan filosofik dasar metodologi penelitian positivistik kuantitatif adalah sebagai berikut:
1.      Acuan hasil penelitian terdahulu
Sesuai dengan filsafat ilmunya, positivisme tunduk kepada bukti kebenaran empirik, maka sumber pustaka yang perlu dicari adalah “bukti empirik hasil-hasil  penelitian terdahulu”.
2.      Analisis, sintesis dan refleksi
Metodologi positivistik menuntut dipilahnya analisis dari sintesis. Dituntut data dikumpulkan, dianalisis, barulah dibuat kesimpulan atau sintesis.
3.      Fakta obyektif
a.    Variabel
Dalam penelitian positivistik kebenaran dicari dengan mencari hubungan relevan antara unit terkecil jenis satu dengan unit terkecil jenis lain.
b.   Eliminasi data
Cara berfikir positivistik adalah meneliti sejumlah variabel dan mengeliminasi variabel yang tidak teliti.
c.    Uji reliabilitas, validitas instrument dan validitas butir
Penelitian positivistik menuntut data obyektif. Obyektif dalam paradigma kuantitatif diwujudkan dalm uji kualitas instrumennya yang disebut uji reliabilitas dan validitas instrumennya. Dari uji validitas instrumen tersebut berarti instrumen tersebut dapat dipakai untuk mengumpulkan data yang obyektif. Kualitas instrumen lebih tinggi lagi dapat diuji lebih lanjut lewat uji validitas setiap soalnya atau uji validitas butirnya. Uji validitas butir diuji daya diskriminasi dan tingkat kesukarannya.
4.      Argumentasi
a.    Fungsi parameter
Sejumlah variabel diuji pengaruhnya dengan teknik uji relevansi atau korespondensi antar sejumlah variabel. Uji korespondensi hanya membuktikan hubungan paralel antar banyak variabel (bukan sebab-akibat).
b.   Populasi
Subyek penelitian adalah subyek pendukung data, subyek yang memiliki data yang diteliti.
c.    Wilayah atau penelitian
Membahas lingkungan yang memberi gambaran latar belakang atau suatu lingkungan khusus yang dapat memberi warna lain pada populasi yang sama.
5.      Realitas
a.    Desain standar
Kerangka berfikir hubungan variabel-variabelnya harus jelas, dirancang hipotesis yang dibuktikan termasuk dirancang instrumen pengumpulan datanya yang teruji validitas instrumennya dan juga validitas butir soalnya dan dirancang teknik analisis.
b.   Uji kebenaran
Realitas dalam paradigma kuantitatif obyektif adalah kebenaran sesuai signifikansi statistik dan pemaknaannya juga sebatas teknik uji yang digunakan. Unsur-unsur data untuk uji kebenaran menyangkut melihat antara lain jumlah subyeknya, jenis datanya, distribusi datanya, mean, simpangan bakunya dan teknik uji korelasinya.
Realitas atau kebenaran yang diakui dalam positivistik sebatas obyek yang diteliti dan seluas populasi penelitiannya dan dijamin oleh teknik pengumpulan data, teknik analisis, dan penetapan populasi.
Kritik Positivistik
Kritik paling umum yang dibuat dan diterima di kalangan ilmuwan sosial adalah kritik seputar perluasan metode-metode ilmiah dalam wilayah kehidupan sosial manusia. Kelompok anti positivis yang menggunakan garis argumen ini menegaskan bahwa antara kehidupan sosial manusia dan fakta alam yang menjadi pokok kajian ilmu-ilmu alam terdapat perbedaan mendasar. Perbedaannya adalah bahwa tingkah laku manusia tidak dapata diramalakan (unpredictable) yang disebabkan oleh tiga faktor:
1.      Kehendak bebas manusia yang unik
2.      Karakter hidup sosial yang tunduk aturan dan bukan tunduk hukum
3.      Peran kesadaran dan makna dalam kehidupan sosial
Dilihat secara ontologik, positivisme lemah dalam hal membangun konsep teoretik, dengan konsekuensi konseptualisasi teoretik ilmu yang dikembangkan dengan metode yang melandaskan pada positivisme menjadi tidak jelas. Sehingga ilmu-ilmu yang dikembangkan dengan metodologi yang berlandaskan positivisme (ilmu-ilmu sosial) menjadi semakin miskin konseptualisasi dan  tidak memunculkan teori-teori baru yang mendasar. Sebagai akibatnya, banyak ilmu sosial mengalami stagnasi.

DAFTAR PUSTAKA
Endraswara, Suwardi.2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Muhadjir, Noeng. 2007. Metodologi Keilmuan. Yogyakarta : Penerbit Rake Sarasin
Muhadjir, Noeng. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Penerbit Rake Sarasin
Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Penerbit Rake Sarasin
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara
Hamami, Tasman, et al. 2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga
Denzin, Norman K, et al. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Slamet, Yulius . 2008 . Pengantar Penelitian Kuantitatif. Surakarta : LPP UNS dan UNS Press
Widodo, T. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif. Surakarta : LPP UNS
http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/167-perbedaan-paradigma-positivism-dan-interpretivism.html diunduh pada tanggal 12 September 2012
Hanurawan, Fattah. 1998. Pendekatan Positivistik, Interpretif, dan Kritis dalam Penelitian Pendidikan. Forum Penelitian Pendidikan 10, 3-16

Kumpulan Kata Kata Mutiara Penuh Makna Terbaru 2015

Sahabat adalah mereka yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yang ada dalam diri kita dan mereka yang selalu memberi kita semangat.
Bersedih dengan orang yang tepat lebih baik daripada berbahagia dengan orang yang salah dan oleh karena itu bijaklah anda dalam memilih sahabat.
Sahabat bukan mereka yang menghampiri kita ketika mereka butuh, namun mereka yang tetap bersama kita ketika seluruh dunia menjauh dari kita.
Jangan pernah kamu menyakiti sahabatmu sendiri, karena sahabat adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak ingin kamu sendirian dalam menjalani hidup.
Sahabat adalah mereka yang tahu apa yang mereka miliki ketika bersamamu, bukan mereka yang menyadari siapa dirimu setelah mereka kehilanganmu.
Sahabat adalah mereka yang tahu semua kekuranganmu, namun tetap memilih bersamamu ketika orang lain pergi meninggalkanmu.
Cinta harus berasal dari hati dan oleh karena itu maka jika tidak dari hati, jangan pernah berucap bahwa kamu mencinta.
Mencintai tidak hanya sekedar ununtuk dicintai, tetapi bagaimana menjaga dan menghargai perasaan yang disebut cinta.
Jika tidak ada cinta, katidakan saja. Jangan karena tidak ingin menyakiti, kamu lupa, meski luka yang kamu beri bisa dimaafkan, dia tidak terlupakan.
Jika kamu cinta dia, biarkan dia menjadi dirinya sendiri, maka kamu tidak akan kecewa ketika mereka tidak seperti yang kamu inginkan.
Terkadang, tidak peduli berapa banyak orang di sekitarmu, kamu merasa sepi. Hanya karena kamu berharap dia yang kamu cinta ada di sisi.
Kadang, meski kamu sangat mencintai seseorang, kamu harus melepaskannya, karena tanpanya kamu temukan dirimu lebih bahagia.
Cinta mungkin akan memberikan luka. Tapi luka akan membuatmu lebih dewasa.
Cinta kasih adalah perasaan hati, yang harus diungkapkan dengan hati, bukan hanya dengan rayuan atau pujian.
Kau selalu lebih kuat dari rasa sakitmu, lebih besar dari masalahmu, lebih baik dari penghakiman orang atasmu, salam ada Tuhan di hatimu.
Segera laksanakan rencana keberhasilanmu di hari ini, jangan tunda lagi, jangan buang waktu, karena waktu tidak bisa menunggu.
Jangan berpikir kamu tidak mampu melupakan masa lalu. Tutup pintu masa lalumu, karena Tuhan selalu buka pintu masa depanmu.
Hidup ini bukan tentang apa yang dipikirkan mereka yang membencimu, namun tentang apa yang dipikirkan Tuhan yang menyayangimu.
Jangan habiskan waktumu memimpikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi ketika kamu bisa bangun dan membuat sesuatu terjadi.
Hal yang menyakitkan ketika kamu kehilangan seseorang adalah kenyataan bahwa dia tidak berusaha ununtuk mempertahankan hubungan kalian.
Kebahagiaan  bukanlah disaat kita memiliki kesempurnaan, namun ketika kita dapat  menerima ketidaksempurnaan dengan tulus dan ikhlas.
Apa yang mudah uuntuk didapatkan, akan mudah ununtuk disesalkan. Apa yang butuh perjuangan utk didapatkan, akan sulit utk dilupakan.
Jangan pernah menyerah, kamu lebih berani daripada yang kamu percaya dan lebih kuat daripada yang kamu pikirkan. Semangat!
Berhati-hatilah dalam memilih teman, karena waktumu terlalu berharga untuk mereka yang tidak pernah menghargai waktumu.
Jika kamu ingin seseorang percaya padamu, hal pertama yang harus dilakukan adalah meyakinkan mereka bahwa kamu mempercayai mereka.
Relakan jika memang harus berakhir. Karena akhir sebuah kisah adalah pertanda bahwa akan ada kisah yang baru.
Luka terdalam adalah luka yang tidak bisa dilihat oleh mata, dan kesedihan terdalam adalah kesedihan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Terkadang bukan karena kebohongan kamu membenci sesorang, tapi karena sedih menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi kamu percaya.
Kehilangan seseorang yang kita cinta memang sangat menyakitkan, tapi itu bukan akhir segalanya, kita bisa bahagia meski tanpa dia.
Jika kamu cinta dia, biarkan dia menjadi dirinya sendiri, maka kamu tidak akan kecewa ketika mereka tidak seperti yang kamu inginkan.
Butuh kepercayaan dalam cinta, karena cinta punya kekuatan ununtuk saling menyakiti. Namun cinta juga yang tidak membiarkan itu terjadi.
Ketika dia yang kamu cinta pergi meninggalkanmu, itu karena kamu berdoa untuk mendapatkan seseorang yang baik, dan dia tidak baik ununtukmu.
Masa-masa terbaik dalam hidup adalah saat kita mampu menyelesaikan masalah sendiri, Masa-masa suram kehidupan adalah saat kita menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi.
Ketika dalam sebuah persimpangan, anda diharuskan memutus sebuah langkah. Pastikan langkah yang diambil adalah demi kebahagiaannya, meskipun rasa sakit yang kan kita terima.
Beberapa yang mampu diselami, adalah wanita begitu sangat susah dipahami. Terkadang telah sejuta makna kita berikan, yang ada tetap misteri hati yang kita dapati.
Seseorang tidak akan pernah bisa mencintai Anda dengan tulus dan apa adanya, jika Anda selalu menyembunyikan kekurangan Anda darinya.
Jangan hanya karena engkau merasa kaya raya lalu bisa membeli sebuah kebahagiaan dan cinta yang suci. Kebahagiaan dan Cinta tidak serta merta anda dapatkan dengan kekayaan, melainkan dengan perasaan yang tulus dan menerima tidakdir Ilahi dengan kerelaan hati.
Kebahagiaan yang diukur dengan harta melimpah ruah bukan lah sesuatu yang salah. Namun berucap syukur atas segala yang Tuhan beri adalah kebahagiaan sejati.
Hidup adalah memilih, namun ununtuk memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa Anda dan apa yang Anda perjuangkan, ke mana Anda ingin pergi dan mengapa Anda ingin sampai di sana.
Tuhanmu lebih tahu batas rasa sakit yang bisa kau tampung. Jangan sampai engkau menyerah disaat selangkah lagi Tuhanmu mengganti kesakitan dengan sejuta keindahan.
Jangan menuntut untuk dicintai apa adanya jika kalian masih memberi syarat kepada seseorang yang mencintai kalian.
Hati yang tulus mencinta, tidak akan lelah untuk bertahandan tidak akan menyerah untuk berjuang, karena dia percaya bahagia pasti dia temukan.
Cinta adalah untuk bahagia. Ketika cinta menjadi penyebab air mata, itu adalah jalan menuju bahagia.
Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh dua orang tersebut.
Seorang wanita yang berpura-pura menertawai cinta itu seperti seorang anak kecil yang menangis di malam hari karena ketakutan.
Cinta tidak memiliki apapun yang ingin kau dapatkan, tapi cinta memiliki semua yang ingin kau berikan.
Tempat yang paling kita cintai adalah rumah, rumah dimana kaki kita bisa saja meninggalkannya, tapi hati kita tak bisa melupakannya.
Pantaskan diri Anda untuk menjadi bahagia. Kemudian berusaha dan berdoa , kemudian menyerahkan hasil kepada pemilik alam semesta.
Semakin kecil cita-citamu makan akan semakin kecil usahamu, yang memungkinkan membuat kamu menyerah.
Bila anda ingin mendapat sesuatu, belajarlah dengan memberi dan bila anda ingin kebahagiaan, berikanlah kebahagian itu kepada orang lain.
Segeralah laksanakan rencana keberhasilanmu di hari ini, jangan tunda lagi dan jangan buang-buang waktu, karena waktu tidak bisa menunggu.
Jika kita dibolehkan memilih lima (5) hal di dunia ini, maka pilihlah agama, harta, akhlak mulia, rasa malu dan pemurah.
Kebohongan hanya menyelamatkanmu untuk sementara, tetapi akan menghancurkanmu selamanya.
Menjadi lilin berarti memberikan cahaya bagi orang lain dan membiarkan diri kita sendiri terbakar.
Jika tidak ada cinta, katakan saja. Jangan karena tidak ingin menyakiti, kamu lupa, meski luka yang kamu beri bisa dimaafkan, dia tidak terlupakan.
Mencintai tidak hanya sekadar untuk dicintai. Tetapi mencintai adalah menjaga & menghargai perasaan cinta.

Melakukan Penyuluhan Sosial yang Efektif dan Efesien

Pengertian Penyuluhan Sosial
            Menurut Kepmensos, Pusat Penyuluhan Sosial menyatakan bahwa penyuluhan sosial adalah sebuah proses pengubahan perilaku yang dilakukan melalui penyebarluasan informasi, komunikasi, motivasi dan edukasi oleh penyuluh sosial, baik secara lisan, tulisan maupun peragaan kepada kelompok sasaran, sehingga muncul pemahaman yang sama, pengetahuan dan kemauan guna partisipasi secara aktif dalam pembangunan      kesejahteraan sosial.

Hal yang mempengaruhi penyuluhan yang efektif dan efisien
       Penyuluhan dikatakan efektif dan efisien jika tercapainya tujuan yang diinginkan dalam waktu yang singkat dan tepat sasaran. 
1.    Prinsip-prinsip Penyuluhan
            Untuk melakukan penyuluhan yang efektif dan efisien, seorang penyuluh harus
       memperhatikan prinsip penyuluhan. Artinya seorang penyuluh harus melakukan
       penyuluhan sesuai dengan prinsip penyuluhan. Adapun prinsip-prinsip dari penyuluhan
       adalah sebagai berikut :
·      Minat dan kebutuhan
            Dalam melakukan penyuluhan berdasarkan minat dan kebutuhan warga sasaran.
·      Organisasi Masyarakat bawah
     Target penyuluhan harus sampai pada organisasi masyarakat bawah.
·      Keragaman Budaya
     Melakukan penyuluhan harus menyesuaikan atau mengetahui budaya warga sasaran.
·      Perubahan Budaya
            Penyuluhan sosial harus memberikan perubahan budaya. Misalnya, budaya mencangkul menjadi menggunakan traktor.
·      Kerjasama dan partisipasi
            Dalam melakukan penyuluhan seorang penyuluh harus bisa bekerjasama dengan warga sasaran dan menjadikan atau mengkondisikan agar warga sasaran dapat ikut andil atau berpartisipasi dalam penyuluhan.
·      Demokrasi dalam penerapan ilmu
            Dalam menerapkan ilmu atau penyuluhan, penyuluh harus menggunakan beberapa metode atau menggunakan prinsip demokrasi dengan mendengarkan aspirasi atau pendapat masyarakat sasaran.
·      Belajar sambil bekerja
o    Penyuluh sambil belajar dengan menerangkan.
o    Bekerja, maksudnya penyuluh dalam melakukan penyuluhan sambil mempraktekkan dan memperagakan.
·      Menggunakan metode yang sesuai
     Metode menyesuaikan dengan kondisi atau karakteristik warga sasaran.
·      Kepemimpinan
            Seorang penyuluh harus bisa menciptakan pemimpin-pemimpin bagi diri sendiri untuk bisa menjaga dirinya sendiri.
·      Spesialis yang terlatih
            Seorang penyuluh harus mempunyai suatu kemampuan, ilmu atau menguasai materi yang akan di suluhkan.
·      Segenap Keluarga
     Penyuluhan harus bisa sampai ke segenap keluarga.
·      Kepuasan
            Masyarakat harus merasa puas dengan adanya penyuluhan, karena penyuluhan yang disampaikan di rasa bermanfaat bagi mereka.

2.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyuluhan Sosial
                 Hal lain yang mempengaruhi penyuluhan sosial yang efektif dan efisien adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penyuluhan sosial. Adapun faktor-faktor penyuluhan sosial tersebut adalah :
·          Faktor yang mempengaruhi perubahan
1.  Keadaan pribadi sasaran :
          a)  Sasaran penyuluhan adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
b) Perlu diamati pada diri sasaran ada tidaknya motivasi pribadi untuk melakukan perubahan.
c)  Apakah ada kekuatan yang menghambat:
          1)            Adanya kegagalan pada masa lalu, karena kegagalan,
          2)            Kekurangsiapan melakukan perubahan,
          3)            Tidak mau menanggung resiko.
2.  Kondisi Lingkungan Fisik :
a)  Kondisi geografis
b)  Sarana dan prasarana
c)  Aksesibilitas
       3.  Lingkungan Sosial Budaya:
a)  Kebudayaan
b)  Opini publik
c)  Kekuatan lembaga sosial
d)  Kekuatan-kekuatan ekonomi
·          Faktor Pendukung Efektifitas Penyuluhan Sosial
       1.  Metode Penyuluhan
            a)  Metode partisipatif artinya bahwa seorang penyuluh sosial tidak menggurui, mengindoktrinasi tetapi memfasilitasi masyarakat sehingga masyarakat dapat berperan secara aktif, berada ditengah-tengah masyarakat untuk mengkaji dan menyuluh dengan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA).
            b)  Metode dialog interaktif artinya bahwa seorang tenaga penyuluh sosial tidak hanya menyuluh/menerangkan saja tetapi kepada audience diberikan kesempatan untuk bertanya dan menanggapi dengan teknik Focus Group Discussion (FGD).
            c)  Metode Pemberdayaan artinya bahwa seorang tenaga penyuluh sosial harus bisa melihat, mengamati potensi, sumber dan daya yang dimiliki masyarakat sehingga penyuluh sosial dapat menjadi fasilitator untuk bersama-sama masyarakat dapat mendayagunakan potensi dan sumber yang dimiliki untuk penanggulangan masalah bersama yang dihadapi guna terwujudnya kesejahteraan bersama. 
            Metode lainnya :
            a)  Berdasarkan pendekatan sasaran :
                 1)  Metode perseorangan
                 2)  Metode kelompok
                 3)  Metode massal
            b)  Berdasarkan teknik komunikasi :
                 1)  Langsung artinya penyuluhan sosial yang dilaksanakan oleh penyuluh sosial yang bertatap muka dengan khalayak sasaran.
                 2)  Tidak langsung artinya penyuluhan sosial yang dilaksanakan oleh penyuluh sosial yang tidak bertatap muka dengan khalayak sasaran melalui berbagai media penyuluhan sosial.
            c)  Berdasarkan indera penerima :
                 1)  Indra penglihatan
                 2)  Indra pendengaran
                 3)  Indra campuran
       2.  Media Penyuluhan
            a)  Alat bantu yang berfungsi sebagai perantara yang dapat dipercaya antara penyuluh dengan sasaran sehingga pesan dan info yang disampaikan lebih jelas dan nyata. Alat tersebut bisa diamati, didengar, diraba, dan dirasa. Contoh :
                 1)  Media Elektronika
                        Radio dan televisi meliputi :
                        Dialog interaktif; sosialisasi, seminar,
                        Diskusi aktual; public service announcement (PSA) atau
                        Iklan layanan masyarakat; short message service (SMS).
                 2)  Media Cetak meliputi :
                        Majalah, Koran, leaflet, booklet, banner, baliho, billboard, spanduk.
                 3)  Media Tradisional meliputi :
                        Ketoprak, wayang, ludruk, lenong, kesenian daerah lainnya.
            b)  Selain memperjelas alat bantu dapat menarik perhatian, menimbulkan kesan mendalam dan menghemat waktu.
            c)  Alat bantu yang baik, bila sesuai dengan pesan/info yang disampaikan dan dapat memperjelas informasi.
            d)  Perhatikan : tidak semua alat bantu mudah dibawa tersedia dimana-mana
            e)  Alat bantu/peraga penyuluhan
                 1)  Benda : sampel, model, specimen
                 2)  Barang cetakan : Pamflet, leaflet, brosur, poster, foto
                 3)  Gambar diproyeksikan : slide, movie, film
                 4)  Lambang grafika : peta, diagram, grafik, skema

       3.  Materi Penyuluhan
                      Adalah bahan yang disiapkan oleh penyuluh social dalam rangka pelaksanaan penyuluhan :
            a)  Sesuai tingkat kemampuan sasaran/masyarakat
            b)  Tidak bertentangan dengan adat istiadat dan kepercayaan
            c) Mampu mendatangkan keuntungan
            d)  Bersifat praktis, mudah dipahami dan diaplikasikan
            e)  Mengesankan dan dapat dimanfaatkan dengan hasil nyata dan segera dinikmati.
       4.  Waktu dan Tempat
            a)  Waktu, sesuaikan dengan kebiasaan masyarakat
            b)  Tempat representative, mudah dijangkau.

3.    Komunikasi, Inovasi, Adopsi inovasi dan Difusi inovasi
            Hal yang terakhir yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyuluhan sosial yang        efektif dan efisien adalah :
·      Komunikasi
     Acuan mengefektifkan komunikasi dalam penyuluhan adalah :
     1.  Harus diupayakan adanya kepentingan yang sama antara kebutuhan yang dirasakan penyuluh dan masyarakat sasarannya
     2.  Pesan yang disampaikan harus merupakan (salah satu) pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat sasarannya
     3.  Komunikator meyakini keunggulan pesan yang disampaikan, dan memiliki keyakinan bahwa masyarakat sangat mengharapkan bantuannya
     4.  Pesan yang disampaikan harus mengacu pada kepuasan dan perbaikan mutu hidup kedua belah belah pihak (terutama bagi sasarannya).
·      Inovasi
     Inovasi tidak sekedar sebagai sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru atau dapat mendorong terjadinya pembaharuan dalam masyarakat atau pada lokalitas tertentu. Artinya, agar penyuluhan dapat efektif dan efisien maka penyuluh harus memberikan inovasi yang sesuai dan benar-benar dibutuhkan oleh sasaran penyuluhan.


·      Adopsi inovasi
     Adopsi adalah sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa : pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psycomotoric) pada diri seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan penyuluh kepada masyarakat sasarannya. Disini penyuluh harus memastikan sasaran penyuluhan telah mengadopsi inovasi yang telah disampaikan oleh penyuluh dan mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
·      Difusi inovasi
     Difusi merupakan suatu proses dimana suatu ide-ide baru (yg biasanya disebut inovasi) disebarkan pada individu atau kelompok dalam suatu sistem sosial tertentu. Sehingga seorang penyuluh berusaha agar penyuluhan yang telah dilakukan dapat disebarkan ke orang lain seperti anggota keluarga, kerabat, dan lain-lain.

KESIMPULAN
       Penyuluhan dikatakan efektif dan efisien jika tercapainya tujuan yang diinginkan dan terjadinya perubahan dalam  waktu yang tidak lama dan tepat sasaran. Untuk melakukan penyuluhan yang efektif dan efisien, maka seorang penyuluh harus mempersiapkan, memperhatikan dan melakukan hal-hal berikut :
1.    Melakukan penyuluhan sesuai dengan prinsip-prinsip penyuluhan
2.    Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan, yang terdiri dari :
       keadaan pribadi sasaran, kondisi lingkungan fisik dan kondisi lingkungan sosial budaya.
3.    Menggunakan metode dan teknik penyuluhan yang tepat serta menggunakan media yang dibutuhkan yang dapat menunjang keefektifan dan keefisienan penyuluhan.
4.    Menyiapkan materi penyuluhan sebaik dan selengkap mungkin dan mudah dimengerti oleh sasaran penyuluhan
5.    Menyesuaikan waktu sesuai dengan kebiasaan masyarakat serta tempat penyuluhan mudah dijangkau oleh sasaran penyuluhan.
6.    Menggunakan komunikasi yang baik dalam proses penyuluhan dan mudah dimengerti
7.    Inovasi yang digunakan oleh penyuluh harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat
8.    Penyuluh memastikan bahwa sasaran penyuluhan mengadopsi inovasi yang disampaikan oleh penyuluh dan mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
9.    Penyuluh berusaha agar inovasi yang telah diadopsi dapat disebarluaskan kepada orang lain.
DAFTAR PUSTAKA



jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/3103

Pusat Penyuluhan Sosial.2001. Standard Umum Penyuluhan Sosial. Jakarta: Departemen
Sosial RI.


Pusat Penyuluhan Sosial.2008. Materi Penyuluhan Sosial Bidang Kesejahteraan Sosial.  Jakarta: Departemen Sosial RI.

Sri Ismudiyati,Yuti. 2015. “Penyuluhan Sosial”, Handout Mata Kuliah Penyuluhan Sosial Dalam Pekerjaan Sosial. STKS BANDUNG, 27 Januari 2015.


Sri Ismudiyati,Yuti. 2015. “Komunikasi, Inovasi, Adopsi inovasi, dan Difusi inovasi” Handout Mata Kuliah Penyuluhan Sosial Dalam Pekerjaan Sosial. STKS BANDUNG, 10 Maret 2015.